JAKARTA|WARTAWAKTU.id – Di tengah kepulan asap hio dan lantunan doa pada Hari Raya Imlek, satu ritual menyedot perhatian umat yang datang ke Wihara Dharma Bhakti di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Ritual itu bernama Tjiam Si, sebuah cara bertanya, meminta petunjuk, sekaligus menata harap di awal tahun yang baru.
Bagi sebagian orang awam, Tjiam Si kerap disalahpahami sebagai permainan keberuntungan. Namun Rendi, penjaga Wihara yang setiap Imlek sibuk mendampingi umat, menegaskan sebaliknya.
“Disclaimer sebelumnya kalau tadi tuh bukan permainan, melainkan itu adalah suatu kegiatan kita bertanya meminta petunjuk dari dewa. Petunjuk itu berdasarkan apa yang kita ingin tanyakan. Misalnya saya ingin menanyakan tentang karir saya sepanjang tahun ini. Jadi kita tanya berdasarkan karakter si Dewanya tersebut,” ucapnya.
Biasanya, pertanyaan yang diajukan sederhana, tentang karier sepanjang tahun, masa depan, atau persoalan hidup yang sedang dihadapi. Namun prosesnya tidak bisa sembarangan. Ada tata cara yang harus dijalani dengan khidmat.
Ritual dimulai dengan sembahyang terlebih dahulu. Setelah itu, barulah pertanyaan diajukan, bukan langsung meminta jawaban, melainkan meminta izin. “Boleh nggak kita bertanya?,” kata Rendi menirukan prosesnya.
Khusus bagi perempuan, ada satu syarat penting yang harus dipenuhi yakni kondisi Yang Peng atau tidak sedang haid.”Itu kalau secara umumnya, itu memang harus jatuh satu (nomornya). Ketika jatuh dua, itu harus diulang,” jelas dia.
Di Vihara Dharma Bhakti sendiri, penomoran Tjiam Si berkisar dari 1 sampai 60, setiap nomor membawa pesan yang berbeda. Nomor yang didapat kemudian dicocokkan dengan kertas berisi tulisan.
“Penomoran yang dinomorin dari Suhu, gitu. Nanti kata-kata dari kertas Tjiam Sie-nya itu ejaan lama. Ejaan lama dan dia itu berbentuk seperti sastra,” tutur dia.
Di sanalah jawaban berada, bisa bernada positif, negatif, atau berada di tengah-tengah. Tak berhenti di situ, hasilnya biasanya akan dijelaskan kembali agar maknanya lebih mudah dipahami. Kertas Tjiam Si kini juga disertai terjemahan bahasa Indonesia, selain Mandarin.
“Jadi setiap kertas itu jawabannya beda-beda. Setiap nomor itu beda-beda. Ada yang, misal ya, nomor satu itu isinya berpesan dalam tanda positif. Jadi, ‘Oh ini isinya bagus’, gitu. Yang kedua, ada juga yang negatif. Ada juga yang gimana ya, tidak negatif tidak positif, jadi masih di tengah-tengah. Ada juga, tergantung dari nomor yang kita dapat,” ujarnya.
Soal akurasi, Rendi hanya tersenyum. “Rata-rata sih yang saya tanyain bilangnya akurat,” katanya.
Namun dia kembali mengingatkan, ritual ini bukan untuk coba-coba, apalagi sekadar konten. Tjiam Si pada dasarnya ditujukan bagi umat Khonghucu yang memahami tata cara ibadahnya.
“Kadang kalau memang dipaksakan untuk hanya sekadar konten, itu jawaban dari Dewanya itu nggak bakal akurat sih. Jadi apa yang dilakukan itu harus diimani, gitu,” tegas dia.
Terkait ritual Tjiam Si, Nita, perempuan asal grogol menyebut dirinya baru kali ini mencoba hal tersebut. Dia mengaku mendapatkan nomor 19 dari pengocokan Tjiam Si.
“Dapetnya ini nomor 19. (Artinya) kurang ngerti sih, tapi tadi diterjemahin artinya adalah kayak kalau misalnya ngerjain sesuatu harus tekun dan sabar,” ucap Nita.

Tinggalkan Balasan