JAKARTA | WARTAWAKTU.id — Komjen Pol. Suyudi Ario Seto resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) di Istana Negara, Kamis (1/10/2026).
Ia menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, menandai babak baru kepemimpinan lembaga penegakan hukum terbesar di negeri ini.
Proses ini berjalan menyusul uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI yang berakhir dengan persetujuan secara aklamasi, lalu disahkan dalam Rapat Paripurna ke 8 DPR RI pada hari yang sama.
Jejak yang Dibawa: Bukan Sekadar Menindak
Sebelum memegang tongkat komando Polri, Suyudi Ario Seto memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak 25 Agustus 2025. Di sana ia memperkenalkan pendekatan yang mengubah cara pandang pemberantasan narkoba: “War on Drugs for Humanity” — tegas terhadap jaringan pengedar, namun humanis terhadap korban.
Dua arah dijalankan beriringan:
– Menindak jaringan peredaran gelap tanpa kompromi
– Membuka akses rehabilitasi, pemulihan, dan pencegahan sejak dini.
Program unggulan ANANDA BERSINAR (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika) menempatkan anak dan keluarga sebagai benteng utama — bukan sekadar sasaran kampanye. Gerakan ini melibatkan sekolah, masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk membangun lingkungan yang benar-benar bersih dari narkoba.
Slogan “Indonesia Bersinar — Bersih dari Narkoba” bukan sekadar ajakan. Ia diterjemahkan menjadi kerja nyata: memperkuat pencegahan, memberdayakan masyarakat, memutus jaringan pengedar, hingga kerja sama internasional.
Visi Baru: Polisi Bersama Masyarakat
Pengalaman memimpin BNN kini dibawa ke lingkup yang jauh lebih luas. Visi yang diusung: “Polisi Bersama Masyarakat”.
Artinya:
– Kedekatan dengan warga menjadi dasar kerja setiap jajaran
– Penegakan hukum berjalan adil — tanpa pandang pangkat, kedekatan, atau kekayaan
– Perlindungan diutamakan, bukan sekadar penindakan
– Pencegahan dilakukan sejak dini, tidak hanya menindak setelah kerugian terjadi.
Pola yang terbukti — tegas terhadap kejahatan, ramah terhadap rakyat — kini diharapkan mewarnai seluruh gerakan kepolisian dari Sabang sampai Merauke.
Yang Dinanti Rakyat
Perpindahan pucuk pimpinan ini datang di saat kepercayaan publik sedang diuji. Nama Suyudi Ario Seto muncul bukan sekadar sebagai pejabat baru — melainkan sosok yang telah menunjukkan mampu memadukan ketegasan dengan kepedulian.
Pertanyaan rakyat sederhana:
– Apakah pendekatan humanis akan menyebar ke setiap kepolisian daerah?
– Apakah laporan warga yang tertunda akan ditindaklanjuti tanpa menunggu pengaruh?
– Apakah jaringan pelindung di lingkungan internal — yang diduga mengayomi kejahatan — akan dibersihkan?
– Apakah keadilan akan terasa sama bagi yang kaya dan yang miskin?
Rakyat tidak menunggu pidato yang indah. Rakyat menunggu polisi yang hadir, mendengar, melindungi, dan adil — di mana pun mereka tinggal.
Penutup: Cahaya yang Harus Sampai
Dari “Indonesia Bersinar” menuju “Polisi Bersama Masyarakat”. Namanya berubah, arahnya tetap: melayani, melindungi, menegakkan keadilan.
Pelantikan di Istana Negara hanyalah awal. Yang akan dinilai bukanlah seragam, pangkat, atau janji — melainkan apa yang terjadi di jalanan, di desa-desa, di setiap laporan yang selama ini tak kunjung dijawab.
Apakah cahaya itu akan sampai ke pelosok negeri? Warga menunggu.(Redaksi)


Tinggalkan Balasan