OPINI | Perubahan tagline Polri dari “Presisi” menjadi “Polisi Bersama Masyarakat” bukan sekadar ganti tulisan di spanduk. Itu adalah pesan arah. Sebuah janji.

Jika pergantian Kapolri adalah pergantian nakhoda, maka pergantian tagline adalah pergantian kompas.

Dua Kata, Dua Dunia

“Presisi” adalah kata yang rapi, teknokratis, dan sangat profesional.
Ia berbicara tentang kecepatan, ketepatan, dan efektivitas penindakan. Tapi di telinga rakyat kecil, kata itu terasa dingin. Terasa jauh. Seolah polisi adalah sebuah mesin canggih yang berjalan dengan logikanya sendiri, sementara rakyat hanya berdiri di pinggir jalan menunggu hasilnya.

“Polisi Bersama Masyarakat” datang dengan napas yang berbeda. Maknanya jauh lebih dalam.

Bukan Polisi Untuk Masyarakat – yang posisinya masih di atas, memberi belas kasihan layanan.

Bukan Polisi Di Tengah Masyarakat – yang ada di antara tapi tetap terpisah.

Tapi Polisi Bersamq Masyarakat – yang berjalan berdampingan. Mendengar dulu sebelum memborgol. Merangkul dulu sebelum menindak.

Ini pergeseran paradigma: dari polisi yang merasa paling tahu apa yang dibutuhkan rakyat, menjadi polisi yang mau tahu apa yang dirasakan rakyat.

Slogan Itu Mudah, Praktiknya yang Susah

Kita semua tahu, memasang slogan di dinding kantor itu lima menit jadi. Tapi memasangnya di hati anggota di lapangan, itu perjuangan bertahun-tahun.

“Polisi Bersama Masyarakat” akan hambar jika warga yang datang melapor malah diinterogasi balik, disuruh pulang, atau dicurigai sebagai pembuat onar.

Akan terdengar kosong jika yang menyampaikan aspirasi dianggap mengganggu ketertiban.

Masyarakat tidak butuh kalimat indah. Masyarakat butuh hal sederhana:

Didengarkan tanpa harus takut. Dilindungi tanpa harus membayar. Dibantu tanpa harus punya kenalan orang dalam. Dihargai meski berbeda pendapat.

Bersama Berarti Dua Arah

Bersama berarti tidak ada yang paling berkuasa. Polisi mendengar keluh kesah rakyat, rakyat memahami beratnya tugas polisi.

Jika dulu pendekatannya adalah: “Kami yang memutuskan, kalian patuh.”

Maka sekarang harusnya: “Mari kita bicarakan, mari kita selesaikan bersama.”

Di sinilah ujian terberat Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Tugasnya bukan lagi mempopulerkan tagline di rapat-rapat elit. Tugasnya memastikan Bhabinkamtibmas di desa terpencil seluruh pelosok Indonesia, Polantas di perempatan jalan, dan penyidik di Polres paling ujung, benar-benar paham apa arti kata “Bersama”.

Karena rakyat tidak menilai Polri dari tagline di gerbang Mabes. Rakyat menilai dari senyum petugas saat menerima laporan, dari kecepatan polisi datang saat dipanggil, dari rasa keadilan yang hadir tanpa melihat siapa backing-nya.

Semoga “Polisi Bersama Masyarakat” tidak berhenti sebagai ganti tulisan di seragam. Semoga ia menjadi ganti hati dalam setiap langkah pengabdian.(**)

Oleh: Hasjaya
Direktur Wartawaktu.id

Palopo, 9 Oktober 2026