“Dari Pintu Luar ke Ruang Dalam — Simbol Kritik yang Kini Menjadi Bagian Kekuasaan.”

JAKARTA | WARTAWAKTU.id — Suara yang selama puluhan tahun terdengar lantang dari luar pagar kekuasaan, kini resmi berdiri di dalamnya

Akademisi dan tokoh pengamat sosial Rocky Gerung hari ini dilantik secara resmi sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Pelantikan itu dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/P Tahun 2026, menandai babak baru sekaligus momen yang paling diperbincangkan dalam pemerintahan ini.

Prosesi Penuh Simbolisme

Upacara berlangsung khidmat. Presiden Prabowo Subianto mendiktekan sumpah jabatan, yang diikuti satu per satu oleh para pejabat yang dilantik. Di hadapan Presiden, Rocky Gerung kemudian menandatangani berita acara pelantikan—bersama tokoh-tokoh lain yang memegang pucuk pimpinan Wantimpres, Pratikno — Ketua Wantimpres. Hatta Rajasa — Wakil Ketua Wantimpres. Muhammad Qodari — Sekretaris Wantimpres.

Dengan tanda tangan itu, status berubah seketika. Yang dulu mengawasi dari luar, kini menjadi bagian dari lembaga yang memberi nasihat langsung kepada Kepala Negara.

Perjalanan yang Mengundang Tanya

Pengangkatan ini bukan sekadar pergantian jabatan. Ini adalah peristiwa yang membalikkan dinamika yang sudah lama dikenal publik. Rocky Gerung dikenal sebagai suara yang tak kenal kompromi: tajam, lurus, kerap menegur siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan—tanpa memandang partai, tanpa menghitung kedekatan politik.

Selama bertahun-tahun, ia berdiri di garis terdepan mereka yang mempertanyakan kebijakan, menegur ketidakadilan, dan menjaga agar kekuasaan tidak melupakan rakyat. Kini, orang yang selama ini mengetuk pintu agar dibukakan, justru dipersilakan masuk.

“Apakah ia akan mengubah sistem, atau sistem yang mengubahnya?”

Pertanyaan itu bergema di mana-mana—di ruang diskusi, di media sosial, hingga di percakapan warga di pelosok negeri, termasuk di Sulawesi Selatan yang jauh dari Istana.

Makna di Balik Langkah Masuk

Wantimpres bukan lembaga pelaksana kebijakan. Ia adalah ruang nasihat: tempat di mana pandangan disampaikan, pertimbangan diajukan, sebelum keputusan besar diambil. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi Rocky Gerung.

Di luar, kebebasan bicara lebih lebar: kritik bisa disampaikan terbuka, tanpa terikat rahasia negara, tanpa memikirkan dampak langsung terhadap jalannya pemerintahan. Di dalam, jalannya berbeda. Nasihat tak selalu bisa diumumkan.

Kritik tak selalu boleh terdengar di telinga publik. Ada batas, ada tanggung jawab lembaga, ada ikatan kesetiaan yang tak tertulis namun nyata.

Banyak tokoh yang dulu lantang di luar, perlahan melunak begitu duduk di kursi resmi. Suaranya mengecil, lalu hilang, lalu berubah membenarkan apa yang dulu ia kecam. Itulah sebabnya pengangkatan ini disambut beragam: sebagian menyambut sebagai kemenangan—agar suara kritis masuk ke ruang pengambilan keputusan; sebagian lain meragukan—apakah prinsip bisa bertahan di tengah kenyamanan kekuasaan.

Cermin bagi Seluruh Negeri

Kisah ini bukan milik Jakarta saja. Bagi daerah—dari Makassar hingga Palopo, dari Luwu hingga Selayar—ini menjadi cermin yang sangat jelas. Di sana, rakyat sudah terlalu sering menyaksikan orang yang dulu berjanji membela, setelah mendapat kedudukan justru berpihak pada kepentingan yang berkuasa.

Karena itu, kehadiran Rocky Gerung di Wantimpres menjadi semacam tolok ukur nasional.

Ketika seseorang diberi posisi, apakah posisi itu mengubah prinsipnya — atau prinsipnya yang mengarahkan posisinya?

Ujian yang Baru Saja Dimulai

Pelantikan hari ini bukan akhir dari perdebatan. Ia adalah awal dari pembuktian.

Keppres sudah ditandatangani. Sumpah sudah diucapkan. Nama sudah resmi terdaftar sebagai bagian dari Wantimpres. Namun yang akan menentukan makna langkah ini bukanlah upacara, melainkan apa yang dilakukan setelahnya—di balik pintu ruang rapat, dalam pertemuan tertutup, saat menyampaikan pandangan yang mungkin tidak disukai Presiden.

Jika Rocky Gerung tetap menyampaikan kebenaran—meski harus berbisik di ruang tertutup, meski berisiko kedudukannya—maka ia telah membuktikan sesuatu yang langka: bahwa seseorang bisa masuk ke dalam kekuasaan tanpa dikuasai olehnya.

Jika sebaliknya suaranya perlahan menghilang, maka negeri ini belajar pelajaran pahit lainnya: kursi yang nyaman sering kali lebih kuat daripada prinsip yang teguh.

Satu hal yang pasti: mata rakyat kini tertuju bukan pada siapa yang melantiknya, melainkan pada siapa yang tetap berkata benar.(Redaksi-Jaya)