PALOPO | WARTAWAKTU.id – Di tengah krisis air bersih yang melanda Kota Palopo akibat kemarau panjang, Perumda Tirta Mangkaluku memilih jujur. Mereka menolak berlindung di balik isu cuaca dan berjanji membenahi sistem penyediaan air secara teknis dan berkelanjutan.

Gelombang kritik dan keluhan warga menyangkut krisis air bersih terus mengalir ke kantor Perumda Tirta Mangkaluku Kota Palopo. Di tengah kemarau panjang yang menyusutkan sumber air baku, direksi Perumda Tirta Mangkaluku memilih melangkah keluar dari pola lama: mereka tak lagi menjadikan fenomena alam sebagai kambing hitam atas gangguan layanan yang dirasakan warga.

​”Kami tidak menyalahkan alam. Kami menjelaskan kondisi dan bertanggung jawab mencari solusi,” tegas pihak Perumda Tirta Mangkaluku dalam keterangan resminya, Kamis (23/9)

Bagi mereka, penurunan debit air baku akibat kemarau memang fakta teknis yang memengaruhi kapasitas produksi. Namun, kondisi geografis dan cuaca ekstrem bukanlah alasan untuk berhenti bekerja apalagi lepas tangan.

​Kompleksitas Sistem dan Kejujuran Teknis

​Memenuhi kebutuhan air bagi seluruh warga Palopo bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Pihak Perumda secara jujur mengakui bahwa persoalan air bersih yang kompleks mustahil diselesaikan secara instan dalam hitungan satu atau dua hari.

​Sistem penyediaan air minum (SPAM) merupakan satu kesatuan rantai yang panjang:
-​Sumber Air Baku dan Intake: Tempat pengambilan air awal dari alam yang sangat rentan terpengaruh musim.
​-Instalasi Pengolahan dan Reservoir: Tempat pembersihan dan penampungan air.
-​Jaringan Transmisi dan Distribusi: Pipa-pipa yang membentang hingga ke meteran pelanggan.

​Ketika salah satu bagian dari sistem ini mengalami keterbatasan atau kendala teknis, dampaknya langsung terasa di wilayah tertentu—terutama kawasan ujung jaringan, daerah berdataran tinggi, serta wilayah dengan tekanan distribusi rendah.
​Karena itulah, Perumda Tirta Mangkaluku menekankan pentingnya penanganan yang teknis, terukur, dan berkelanjutan.

Mereka menolak memberikan “jawaban manis” yang sekadar menyenangkan untuk didengar masyarakat, melainkan fokus pada perbaikan nyata agar sistem penyediaan air siap menghadapi kondisi serupa di masa depan.

​Kritik Sebagai Bahan Evaluasi, Bukan Musuh

​Di tengah desakan dari berbagai elemen—mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, DPRD, hingga Pemerintah Daerah—Perumda Tirta Mangkaluku memilih terbuka. Segala bentuk perhatian dan kritik dipandang bukan sebagai serangan, melainkan bahan evaluasi untuk perbaikan layanan.

​”Masyarakat tidak membutuhkan alasan. Masyarakat membutuhkan air. Dan itulah yang menjadi perhatian utama kami,” terangnya.

​Manajemen Perumda menegaskan bahwa sebagai perusahaan daerah, sumber pendapatan utama mereka justru berasal dari mengalirnya air ke rumah pelanggan. Secara rasional dan operasional, Perumda adalah pihak yang paling berkepentingan agar air dapat mengalir lancar dan normal.
​Direksi menegaskan committed untuk tidak diam. Meski tidak menjanjikan solusi instan, proses pembenahan terus berjalan secara bertahap tanpa henti.

​Ruang Kolaborasi Bersama

​Bagi Perumda Tirta Mangkaluku, krisis air bersih saat ini tidak boleh menjadi ajang saling menyalahkan. Sebaliknya, ini harus dijadikan momentum bagi seluruh pemangku kepentingan—Pemda, DPRD, Perumda, akademisi, hingga masyarakat—untuk duduk bersama dan merumuskan langkah strategis jangka panjang.

​Sinergi antar-stakeholder diperlukan untuk memperkuat infrastruktur dan penyediaan air bersih Kota Palopo agar lebih tahan terhadap perubahan iklim di masa mendatang. Sebab pada akhirnya, pelayanan air bersih yang andal adalah hak warga dan tanggung jawab bersama.(Redaksi-Jaya)