PALOPO | WARTAWAKTU.id – Rizal baru saja berjalan pulang, dini hari Selasa lalu, pukul 00.30 WITA. Buruh harian asal Padang Alla, Pa’batang ini tak menyangka dirinya akan menjadi sasaran. Tiba-tiba anak panah melesat — dan ia terluka. Belum genap sehari berlalu, Rabu malam pukul 20.30 WITA, giliran Padil, pekerja di SPBU Sampoddo, yang menjadi sasaran. Anak panah merobek pakaiannya, nyaris mengenai tubuhnya.
Dua kejadian dalam jarak yang berdekatan, waktu yang berurutan, senjata yang sama: busur dan anak panah. Dan hingga kini, pelaku masih berkeliaran di gelapnya malam.
Korban Berjatuhan, Ketakutan Menyelimuti
Rizal (37) menjadi korban pertama yang tercatat secara terang. Ia diserang di kawasan Sampoddo pada dini hari, saat jalanan mulai sepi. Kurang dari 24 jam kemudian, teror kembali terjadi — kali ini tepat di depan SPBU Pertamina Sampoddo. Padil selamat karena anak panah hanya merobek pakaiannya, namun ketakutan yang dirasakan warga jauh lebih dalam daripada sekadar luka fisik.
Kini saat matahari terbenam, pintu-pintu rumah mulai dikunci lebih rapat. Anak-anak tidak lagi bermain di luar. Warga yang pulang malam berjalan dengan rasa cemas, sesekali menoleh ke belakang. Gelap malam yang dulu biasa saja, kini terasa mengancam.
Di Balik Teror yang Datang dan Pergi
Keterangan warga menyebut pola yang mulai terlihat: para pelaku diduga bergerak menggunakan sepeda motor. Satu unit Honda Scoopy berwarna putih sempat terlihat meninggalkan lokasi kejadian. Mereka datang dalam kegelapan, melepaskan tembakan, lalu pergi secepat kedatangannya — membuat warga merasa tak berdaya dan terisolasi.
Yang paling mengkhawatirkan: motifnya belum jelas. Tidak ada perampokan, tidak ada ancaman tebusan — hanya penyerangan membabi buta terhadap warga yang tidak curiga. Teror tanpa alasan yang terlihat, sering kali terasa jauh lebih menakutkan daripada kejahatan biasa. Siapa pun bisa menjadi sasaran berikutnya.
Warga Mendesak: Kehadiran yang Hilang di Tengah Malam
Berulangnya kejadian ini memicu kekecewaan yang tak bisa lagi dibungkam. Warga menilai langkah preventif aparat belum cukup maksimal. Patroli dirasa belum cukup hadir di titik-titik rawan, sehingga pelaku merasa bebas bergerak.
Masyarakat Sampoddo dan sekitarnya kini berharap lebih dari sekadar janji:
– Patroli malam yang nyata dan teratur di kawasan rawan
– Pengusutan tuntas siapa kelompok ini dan apa motifnya.
– Penangkapan para pelaku sebelum korban yang lebih serius berjatuhan.
“Kami tidak takut siang hari. Tapi kami takut saat malam tiba. Sampai kapan kami harus hidup seperti ini?,” keluh seorang warga yang enggan disebut namanya.
Catatan Penting
Ini bukan sekadar berita tentang dua orang yang terluka. Ini tentang hilangnya rasa aman — hak paling dasar setiap warga negara. Selama pelaku masih bebas berkeliaran, selama itu pula ketakutan akan terus menyelimuti Sampoddo. Warga berhak tidur nyenyak di rumahnya sendiri, dan berjalan aman di jalan desanya. Itulah janji paling mendasar dari kehadiran negara.(Redaksi)


Tinggalkan Balasan