JAKARTA | WARTAWAKTU.id – Senin dini hari, 19 Oktober 2026, pukul 02.47 WIB, di RS PELNI Petamburan, Jakarta, sebuah kepergian menyedihkan sekaligus menggetarkan hati bangsa ini. Kamaruddin Simanjuntak, SH, pejuang hukum yang dikenal tak kenal takut, mengembuskan napas terakhir di usia 52 tahun. Selama bertahun-tahun ia berjuang membela kebenaran sambil menjalani cuci darah rutin. Namun yang paling berat bukanlah sakit fisiknya, melainkan luka di hatinya — yang ia bawa namun tak pernah biarkan melumpuhkannya.
Berita duka disampaikan oleh rekan advokat, Martin Lukas Simanjuntak. Jenazah beliau disemayamkan di UKRIDA.
Dari Bawah Kolong Jembatan Menjadi Penegak Hukum
Kamaruddin lahir di Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dari keluarga sederhana. Lulus SMAN 1 Siborongborong tahun 1992, ia merantau ke Jakarta dengan mimpi yang sederhana namun tekad yang kuat. Di Jakarta, ia pernah hidup di bawah kolong jembatan. Mulai bekerja sebagai petugas layanan di restoran pada 1993, lalu menjadi tenaga penjual keliling. Baru pada tahun 2000 ia berhasil menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan kemudian bergabung di Firma Hukum Viktoria.
Perjuangannya tidak dimulai saat ia menjadi pengacara. Perjuangannya dimulai sejak ia bertahan hidup di kota besar tanpa tempat tinggal.
Tragedi Mengubah Semuanya
Tahun 2016, saat sedang membela Rachmawati Soekarnoputri dalam sebuah rapat pembelaan, telepon berdering — kabar yang diterimanya menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya. Istri dan anaknya dibakar hidup-hidup di dalam mobil, hanya sekitar 400 meter dari rumah mereka, tak lama setelah berangkat pagi itu.
Beliau sendiri pernah bersaksi:
“Masih ingat waktu itu istri saya dibakar di mobil waktu saya bela putri Soekarno tahun 2016! Waktu saya bela putri Soekarno dulu, saya lagi bicara seperti ini di hadapan rapat itu, istri saya baru jalan 400 meter dari rumah, dibakar hidup-hidup istri saya sama anak saya. Jadi saya udah nggak ada takut.”
Kejadian kelam itu bukan membuatnya berhenti. Justru melahirkan kalimat yang kini abadi:
“Bandit yang Harus Takut Sama Kita. Jangan Kita yang Takut Sama Bandit”
Sebelumnya, pada 2011, saat membongkar korupsi proyek Wisma Atlet yang kemudian menjalar hingga kasus e-KTP, ada pihak yang menyiapkan uang Rp 11 miliar untuk nyawanya. Ia selamat — dan tidak pernah mundur selangkah pun.
Suara yang Tidak Bisa Dibungkam
Sepanjang perjalanan profesinya, nama Kamaruddin Simanjuntak selalu muncul di kasus-kasus besar yang dianggap “panas”:
●Kasus Korupsi Wisma Atlet & e-KTP — yang menyeret nama-nama besar termasuk Angelina Sondakh
●Kuasa Hukum Muhammad Kece — dalam kasus yang sensitif dan banyak diperbincangkan publik.
●Pembela Rachmawati Soekarnoputri — yang berujung pada tragedi paling pribadi dan menyakitkan baginya
●Pendirian Partai PDRIS — 7 Juli 2020, sebagai bentuk perjuangan di jalur kebijakan publik.
Namun namanya terpatri paling dalam di hati rakyat Indonesia melalui satu nama: Brigadir J.
Saat Semua Orang Diam, Dia yang Berbicara
Juli–Agustus 2022. Narasi resmi sudah dibangun: tembak-menembak. Publik diberitahu skenario yang rapi. Mereka yang tahu takut berbicara. Hanya satu orang yang berdiri tegak dan berteriak lantang di hadapan kamera televisi:
“Ini Bukan Tembak-Menembak, Ini Pembunuhan Berencana.”
Itu Kamaruddin Simanjuntak. Sendirian, menentang institusi terbesar keamanan negara.
Ia yang menyoroti kejanggalan luka-luka Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Ia yang mendesak autopsi ulang dilakukan. Ia yang membongkar narasi palsu tentang pelecehan seksual yang disebar untuk menutupi kejahatan. Hingga akhirnya kebenaran terungkap sepenuhnya — Ferdy Sambo dan empat orang lainnya ditetapkan tersangka dan diadili.
Seorang yang sudah kehilangan yang paling berharga dalam hidupnya justru menjadi orang yang paling takut kehilangan kebenaran.
Pulang dengan Tenang
Senin dini hari, 19 Oktober 2026. Tugasnya selesai. Perjuangannya di dunia ini sudah tuntas. Ia pulang tanpa menyerah, ia pergi tanpa pernah menjual prinsipnya.
Orang boleh mati. Tapi kebenaran yang ia perjuangkan tidak akan pernah mati.
Selamat jalan, Kamaruddin Simanjuntak. Terima kasih sudah mengingatkan kita: keberanian bukan berarti tidak takut — keberanian adalah tetap melangkah meski hatimu sedang berdarah.(Redaksi)


Tinggalkan Balasan