PALOPO | WARTAWAKTU.id – Jelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kota Palopo periode 2025–2030, denyut politik di Kota Idaman berpacu lebih cepat. Ruang-ruang diskusi hingga sudut warung kopi tak lagi sepi. Satu nama mendominasi percakapan: Ilham Arief Sirajuddin — atau yang akrab disapa Aco.

Bukan sekadar pesaing di arena ini. Aco adalah pusat gravitasi. Semua mata kini tertuju padanya.

Titik Mula: Gelombang dari Makassar

Perubahan peta dimulai tepat pada 25 Oktober 2026. Di Four Points Hotel Makassar, Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia melantik Ilham Arief Sirajuddin sebagai Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan, didampingi Farid Kasim Judas sebagai pengurus wilayah.

Efeknya menjalar cepat. Dari lantai atas hotel mewah di Makassar, pengaruh itu mengalir ke utara — hingga ke setiap jalan dan lorong di Kota Palopo. Konsolidasi yang sebelumnya tersebar, kini seketika punya arah yang sama: ke bawah panji kepemimpinan Aco.

Lima Figur, Satu Pusat Gravitasi

Persaingan kini resmi mengerucut pada lima sosok yang dijuluki “BIG FIVE”. Uniknya, kelimanya seolah berjalan dalam barisan yang sama — namun masing-masing berharap menjadi yang paling dipercaya:

H. Harisal A. Latief — Langkah Pasti dari Dalam

Wakil Ketua I DPRD sekaligus Sekretaris DPD II Golkar Palopo ini menjadi yang pertama menyatakan kesiapannya. Mengantongi lampu hijau dari Aco, Harisal mengklaim dukungan mayoritas dari sembilan Pimpinan Kecamatan. Posisi terkuat saat ini.

Farid Kasim Judas — Bayang Nama dan Mesin Baliho

Putra mantan Wali Kota Palopo, Judas Amir, yang kini juga duduk di pengurus DPD I, tampil dengan kehadiran visual yang paling mencolok. Baliho dan papan iklan bergambar FKJ bertebaran di sepanjang jalan protokol. Pesannya jelas: saya perpanjangan tangan langsung dari Makassar.

Baharman Supri — Akar di Tingkat Bawah

Sebagai Ketua AMPG Palopo, BS memegang jalur struktur paling bawah. Di setiap pertemuan pimpinan kecamatan, namanya selalu hadir bersama pesan yang konsisten: bersatu di bawah Aco.

Akhmad Syarifuddin “Ome” — Duel yang Terulang

Politisi berlatar akademisi yang juga anggota DPD I Golkar ini menghadirkan kisah menarik. Dulu lawan FKJ di kontestasi Pilkada, kini keduanya berdiri di lingkaran kepercayaan yang sama. “Duel klasik” kini berubah menjadi persaingan siapa lebih dekat di hati sang pemimpin.

Irfan Nawir — Menaklukkan Hati Kaum Muda

Gerbong IN Community bergerak dengan gaya berbeda. Ford Raptor kuning yang mencolok bergambar wajah IAS dan dirinya berkeliling kota setiap hari. Strategi: jika tidak bisa menang lewat posisi, menangkan dulu hati generasi mendatang.

Bukan Tentang Siapa Paling Kuat, Tapi Siapa Paling Dipercaya

Pengamat politik lokal, Nursalim Ramli melihat pola yang berbeda dari Musda-musda sebelumnya.

“Musda kali ini bukan lagi adu siapa yang modalnya paling besar atau jaringannya paling luas. Ini panggung adu kedekatan. Siapa di antara kelima figur ini yang dianggap paling mampu menjaga stabilitas dan tidak menimbulkan gesekan baru — dialah yang akan dipilih,” ungkapnya.

Kekuatan tidak lagi di tangan masing-masing kandidat. Kekuatan kini terpusat pada satu sosok di atas mereka semua. Aco tidak ikut bertanding, namun dialah yang menentukan siapa pemenangnya.

Antara Kesatuan dan Peluang yang Terbatas

Lima kandidat, satu kursi ketua. Semua mengusung nama yang sama. Semua berjanji setia pada arah yang sama. Namun pintu itu hanya bisa dilewati oleh satu orang.

Saat ini, belum ada yang mundur. Semua merasa punya peluang. Semua merasa berada dalam peta yang benar.

Oktober 2026 menjadi garis finis yang dinanti. Ketika debu pertarungan mereda nanti, siapapun yang terpilih, satu hal pasti: ia akan berdiri bukan di atas kekuatannya sendiri, melainkan di atas kepercayaan yang diberikan dari atas.

Dan yang lainnya? Mereka tetap bagian dari barisan — karena di sistem ini, kalah dalam pencalonan bukan berarti kalah dalam politik. Selama masih berada dalam bayang-bayang Aco, masa depan tetap terbuka.

Musda Golkar Palopo kali ini adalah cermin kecil dari sebuah realitas politik yang lebih besar: kekuatan partai bukan selalu soal suara terbanyak. Kadang ia soal siapa yang memegang kendali, dan siapa yang dipercaya memegang kemudi. Selamat bertanding, Beringin Palopo. Semoga yang terpilih membawa semua ke arah yang sama.(Redaksi/Jay)