Saat Malam Menjadi Tameng

LUWU | WARTAWAKTU.id – Laporan warga kembali mengemuka dari Dusun Salu Tarra, Desa Posi, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Selama beberapa hari terakhir, aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) dikabarkan berlangsung kembali — berjalan pada malam hari, menggunakan alat berat ekskavator.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian. Kapolsek Bua, AKP Catur Suhendra, hingga saat ini belum memberikan konfirmasi baik secara lisan maupun tertulis terkait informasi yang disampaikan warga melalui pesan aplikasi WhatsApp, Rabu (21/10)

Pola Yang Terulang

Ini bukan pertama kalinya laporan serupa muncul. Sejak beberapa waktu lalu, wilayah ini telah menjadi sorotan terkait aktivitas PETI yang muncul dan hilang secara berkala.

Warga melaporkan: kegiatan berjalan malam hari, menggunakan ekskavator. Belum ada konfirmasi dari pihak berwenang atas kebenaran informasi maupun langkah yang akan diambil. Pola operasi malam hari memunculkan pertanyaan: apakah ini kegiatan yang sengaja disembunyikan, atau belum masuk dalam jangkauan pengawasan rutin?

Ketika kegiatan yang seharusnya sudah tertib justru muncul kembali di kegelapan malam, dan ketika laporan warga belum dijawab — yang tumbuh bukan kepastian hukum, melainkan dugaan yang semakin dalam.

Tiga Pertanyaan Menunggu Jawaban

Keberhasilan penertiban tidak hanya diukur dari seberapa sering petugas turun ke lapangan. Yang lebih penting: seberapa lama ketertiban itu bertahan setelah petugas pergi.

Pertanyaan yang belum terjawab, mengapa penting. Siapa yang mengoperasikan alat berat tersebut dan dari mana modalnya?

Penambang rakyat biasanya menggunakan alat sederhana, namun Kehadiran ekskavator menunjukkan skala dan sumber daya yang tidak sederhana. Mengapa beroperasi pada malam hari? Apakah untuk menghindari pengawasan? Jika iya — pengawasan mana yang lemah, atau mana yang sengaja dihindari?

Mengapa laporan warga belum mendapat tanggapan resmi?. Keterbukaan informasi adalah langkah pertama membangun kepercayaan. Diamnya pihak berwenang sering kali menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Ketika Sungai Bua Menjadi Saksi Bisu

Menjelang musim penghujan, aktivitas penggalian di kawasan aliran sungai bukan sekadar pelanggaran administratif. Ia adalah ancaman nyata: kerusakan tebing, sedimentasi yang mencemari sumber air warga, dan risiko banjir yang meningkat tajam.

Warga tidak meminta operasi besar-besaran yang dramatis. Mereka hanya meminta satu hal: kejelasan. Apakah ini benar terjadi? Jika ya, apa yang sedang dilakukan? Jika tidak, jelaskan kepada publik apa yang sebenarnya terjadi.

Keheningan pihak berwenang bukanlah bukti kebenaran maupun kesalahan. Tapi di tengah masyarakat yang sudah cemas, tidak adanya jawaban sama dengan membiarkan ketidakpastian terus tumbuh di ruang hampa.

Catatan Redaksi

Berita ini akan diperbarui segera setelah ada tanggapan resmi dari pihak kepolisian maupun instansi terkait. Kehadiran negara tidak hanya saat masalah sudah membesar — tetapi saat laporan pertama disampaikan, itulah saat yang paling tepat untuk hadir.(Redaksi)