Di Bawah Nama Imam Mahdi : Tiket Surga Harga Rp 1,3 Miliar
BANGKALAN | WARTAWAKTU.id – Semua bermula dari kepercayaan yang tulus. Halimi bukan orang yang mudah terbuai. Ia awalnya berguru kepada seseorang yang ia yakini membimbingnya pada jalan yang benar. Namun tak disangka, kepercayaan itulah yang akhirnya menyeretnya kehilangan harta senilai Rp1,3 miliar dalam kurun waktu enam tahun.
Kasus ini kini menjadi sorotan setelah Halimi melaporkan berinisial F ke Polres Bangkalan, Jawa Timur, dengan dugaan penipuan berkedok aliran kepercayaan menyimpang yang mengaku sebagai Imam Mahdi.
Langkah Awal Tidak Terduga
Semua berjalan wajar hingga tahun 2019. Saat itu, guru yang selama ini dibimbing Halimi, GY, meninggal dunia. Empat puluh hari setelah kematiannya, Halimi dan puluhan orang lainnya dipanggil ke rumah F, adik dari almarhum GY. Di sana, mereka diperkenalkan kepada ayah F yang berinisial AS.
“Di situ kami disuruh memanggil AS sebagai Ratu Adil dan memanggil F sebagai Imam Mahdi,” ungkap Halimi.
Sejak saat itu, segalanya berubah. Ajaran yang tadinya sesuai syariat Islam perlahan bergeser. F mulai menetapkan aturan ketat setiap kali mereka berkumpul: dilarang membawa ponsel dan wajib mengenakan pakaian berwarna putih. Tanpa alat komunikasi, para pengikut terisolasi. Apa pun yang disampaikan F menjadi satu-satunya kebenaran yang mereka dengar.
Dari “Pengusir Roh” Hingga “Tiket Surga”
Permintaan uang muncul perlahan, dimulai dari persoalan yang paling menyentuh hati: harapan memiliki keturunan. Ketika istri Halimi belum juga hamil, F berdalih ada gangguan makhluk gaib di sekitar rumah. Dengan imbalan Rp 5 juta, ia menawarkan “penyembuhan.”
Itu baru permulaan. Berbagai dalih terus bermunculan:
●”Top up umur panjang” — Rp 3 juta per kali, dibayarkan hingga belasan kali.
●”Tiket surga” — dibayar agar keluarga terhindar dari siksa kubur.
●”Biaya pelantikan menjadi wali” — sejumlah uang sebagai syarat memperoleh kedudukan spiritual.
“Kalau mau umurnya panjang, harus bayar atau top up Rp 3 juta. Kami bayar berulang kali,” kata Halimi.
Selama enam tahun, ia terus membayar. Setiap kali keraguan muncul, janji kebahagiaan dunia akhirat kembali memperkuat keyakinannya. F bahkan menyampaikan bahwa ayahnya, AS, bisa berkomunikasi langsung dengan Allah dan mengetahui amal perbuatan mereka.
Saat Klaim “Kekuatan Supranatural” Gugur
Kesadaran Halimi baru datang ketika AS — yang diklaim bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan — meninggal dunia pada 2025. Jika seseorang bisa memanjangkan umur dan berkomunikasi dengan Yang Maha kuasa, mengapa ia sendiri tidak terhindar dari kematian?
“Di situ kepercayaan kami mulai luntur. Kami mulai meyakini bahwa ini adalah penipuan,” ucapnya dengan mulai sadar.
Setelah menghitung seluruh pengeluaran, total kerugian mencapai Rp 1,3 miliar. Upaya kekeluargaan untuk meminta kembali uang tersebut tidak membuahkan hasil. Akhirnya, langkah hukum menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.
Ajaran Menyimpang, Uang Hilang
Penyimpangan yang dilakukan F dan almarhum AS ternyata tidak sekadar soal uang. Doktrin yang disampaikan dinilai melenceng jauh dari ajaran Islam:
– Mengaku memiliki kedudukan setara Nabi Muhammad SAW.
– Mengajarkan salat Jumat boleh. ditinggalkan karena dianggap “hadiah yang tidak berdosa”.
– Menjadikan hubungan manusia dengan Tuhan layaknya transaksi jual-beli — uang dibayar, berkat diterima.
Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, menyatakan pihaknya baru menerima laporan dan sedang mendalami kasus tersebut.
“Nanti akan kami cek. Infonya baru melapor hari ini,” katanya, Rabu (21/10/2026).
Di balik Kepercayaan yang Dirusak
Kasus ini bukan sekadar soal penipuan ratusan juta rupiah. Ini adalah kisah tentang bagaimana kerinduan manusia akan petunjuk dan jaminan keselamatan di akhirat bisa dimanfaatkan secara kejam.
Ketika seseorang mengaku sebagai utusan Tuhan yang bisa menjamin surga dengan sejumlah bayaran, itu bukan agama — itu bisnis yang menyembunyikan diri di balik agama.
Larangan membawa ponsel dan kewajiban berpakaian putih bukan syariat. Itu adalah cara mengisolasi pengikut agar tidak mendengar suara lain selain suara penipu. Kepercayaan yang tidak diuji dengan akal sehat, pada akhirnya akan selalu berisiko dimanfaatkan oleh mereka yang mencari keuntungan di atas nama Yang Maha Suci.(Redaksi)


Tinggalkan Balasan