LUWU | WARTAWAKTU.id — Belum jauh dari jalan yang kini diperlebar, belum jauh dari gedung-gedung baru yang berdiri tegak, ada sebuah rumah yang nyaris tak lagi pantas disebut tempat berlindung. Di Lingkungan Batu Murrung, Kelurahan Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, dinding papan lapuk berdiri menyangga atap yang berlubang-lubang. Di dalamnya, enam jiwa — termasuk seorang bayi yang baru lahir — menjalani hari-hari dengan cemas setiap kali langit mulai gelap.
Saat Hujan Turun, Mereka Tidak Bisa Tidur
Siang hari, cahaya matahari menembus celah-celah atap anyaman yang sudah rusak. Tetapi itu bukan masalah terberat. Saat hujan turun deras, air merembes masuk dari mana-mana. Tidak ada ruang yang benar-benar kering.
“Tidak bisa tidur kalau hujan, Pak. Kami duduk saja di pinggir-pinggir,” ujar Nirwana, ibu di rumah itu, dengan suara yang berusaha tetap tenang, Kamis (8/10)
Enam orang berdesakan di ruang sempit. Saat hujan datang, mereka bergeser, mencari sisa-sisa tempat yang belum terkena air. Bayi yang baru lahir harus dilindungi dari dingin dan basah — di sebuah rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman.
Pintu yang Berpindah
Nirwana tidak diam saja. Dua kali ia datang ke Dinas Sosial berharap ada bantuan perbaikan rumah. Namun jawabannya: anggaran bedah rumah sudah pindah ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman.
“Saya tidak ke Perkim saat itu, karena besoknya saya melahirkan. Jadi belum pernah ke sana sampai sekarang,” tambahnya.
Di antara urusan yang berpindah dari satu meja ke meja lain, kebutuhan mereka tidak menunggu. Atap yang rusak tidak menunggu. Hujan tidak menunggu. Bayi yang baru lahir tidak menunggu.
Beban Semakin Berat
Suami Nirwana yang dulunya tukang batu, kini tak lagi mampu bekerja keras seperti dulu karena kondisi kesehatannya. Penghasilan yang sudah sedikit, makin menyusut. Nirwana sehari-hari di rumah mengurus anak-anak. Memperbaiki rumah dengan tenaga dan biaya sendiri? Itu jauh di luar jangkauan mereka.
Mereka tidak meminta rumah mewah. Yang mereka minta sederhana saja: atap yang tidak bocor saat hujan, dinding yang tidak lapuk dimakan waktu, tempat yang aman bagi anak-anak untuk beristirahat tanpa gemetar menunggu cuaca buruk berlalu.
Pembangunan Tak Boleh Melupakan Siapa
Kisah keluarga ini bukan sekadar satu kasus kemiskinan. Ia adalah cermin: di tengah hiruk-pikuk pembangunan daerah, apakah kita juga memperhatikan mereka yang paling lemah? Apakah setiap orang berhak atas tempat tinggal yang layak — bukan sebagai anugerah belas kasih, melainkan kebutuhan dasar setiap manusia?
Nirwana dan keluarganya masih menunggu. Bukan di pinggiran kota yang jauh terasing. Mereka ada di sini, di antara kita. Hanya saja, kadang kita terlalu sibuk melihat ke depan, hingga lupa menengok ke samping.
Mereka tidak meminta banyak. Cukup sebuah rumah yang aman. Sebuah atap yang menaungi. Sebuah harapan yang tidak harus berpindah-pindah meja untuk didengar.(**)
Sumber: SimpulRakyat.co.id
Diolah: Redaksi-Jaya


Tinggalkan Balasan