JAKARTA|WARTAWAKTU.id — Sebuah foto lawas membuka jendela masa lalu yang tak terduga. Tahun 1988, halaman majalah remaja menampilkan seorang pelajar berusia 16 tahun, tinggi 171 sentimeter, berat 52 kilogram, tercatat sebagai siswa SMP Negeri 70 Jakarta. Namanya: Suyudi Ario Seto. Saat itu ia dikenal sebagai salah satu peserta Cover Boy majalah mode.
Puluhan tahun kemudian, nama yang sama kembali mencuat — bukan di halaman majalah, melainkan di ruang rapat Komisi III DPR RI. Disetujui secara aklamasi sebagai calon Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dari rubrik remaja ke pucuk pimpinan institusi keamanan — sebuah perjalanan yang membentang hampir empat dekade.
Remaja di Tahun 1988
Foto arsip itu menyimpan potret sederhana: wajah muda, tatapan tenang, tertulis keterangan lengkap tentang dirinya — sekolah, usia, tinggi badan. Tidak ada tanda-tanda seragam kepolisian. Tidak ada pangkat. Hanya seorang pemuda yang berada di antara pelajar lainnya, ditampilkan dalam halaman majalah mode.
Siapa pun yang melihatnya saat itu mungkin membayangkan berbagai jalur bagi pemuda tersebut — namun sedikit yang menyangka: ia akan menempuh jalan pengabdian yang mengantarkannya ke posisi tertinggi di lembaga penegakan hukum negeri.
Jalur yang Dipilih
Bertahun-tahun berlalu. Remaja yang pernah tampil di majalah itu memilih jalur yang berbeda dari sorotan dunia hiburan. Ia masuk kepolisian, meniti jenjang satu per satu, menduduki jabatan-jabatan strategis, hingga mencapai pangkat Komisaris Jenderal Polisi.
Kemudian September 2026 tiba. Surat Presiden masuk ke DPR. Nama diajukan sebagai calon Kapolri. Komisi III menggelar uji kelayakan dan kepatutan. Tanpa perdebatan panjang, seluruh fraksi menyetujui secara aklamasi.
Dari halaman majalah remaja ke kursi pimpinan Polri — bukan lompatan instan, melainkan perjalanan panjang kesetiaan pada satu jalan pengabdian.
Yang Dibawa ke Depan
Foto lama itu bukan sekadar kenangan. Ia menjadi pengingat:
– Setiap pemuda memiliki masa depan yang belum tertulis
– Pilihan yang diambil hari ini menentukan posisi kita puluhan tahun ke depan
– Kehidupan tidak berjalan di satu halaman saja — ia berpindah, berkembang, dan mengabdi.
Kini mata publik tertuju pada langkah berikutnya. Apakah remaja yang dulu tampil di majalah itu akan membawa semangat baru: kerendahan hati, kedekatan dengan rakyat, serta kepemimpinan yang jernih dan tegas?
Siapa yang pernah tampil di halaman majalah kini berdiri di panggung terbesar negeri. Dan yang dinanti rakyat bukanlah siapa ia di masa lalu — melainkan untuk siapa ia berdiri hari ini.(Redaksi)


Tinggalkan Balasan