PALOPO | WARTAWAKTU.id— Saat kamera diangkat, suasana berubah. Fredi, wartawan Linteranews.com, baru saja merekam antrean panjang kendaraan di SPBU Padang Alipan, Kelurahan Jaya, Kecamatan Telluwanua, Palopo, Kamis (24/9/2026). Tugasnya sederhana: memberitakan apa yang warga lihat setiap hari — kesulitan mendapatkan bahan bakar. Namun tak disangkanya, langkah itu justru mengundang ancaman, kepungan dan kekerasan.

Panggilan dari Warung, Ucapan yang Mengubah Suasana

Cerita bermula ketika Fredi dipanggil oleh seorang anggota Polsek Telluwanua yang berada di sebuah warung tak jauh dari lokasi SPBU. Ia menghampiri, berniat berbicara. Namun di tengah percakapan, satu ucapan keras memecah suasana — datang dari seseorang yang dikenal sebagai pelansir BBM di lokasi itu.

“Tidak ada anunya wartawan di sini,” ucap orang itu, menurut keterangan Fredi.

Kalimat itu seolah menjadi tanda. Tak lama berselang, sejumlah orang mendekat. Fredi masih berada di atas sepeda motor — belum sempat pergi, belum sempat mematikan mesin — ketika ia dikepung. Lalu, dari arah belakang, ada yang menendangnya.

Kekerasan di Depan Mata, Siapa yang Melindungi?

Fredi tidak tahu persis siapa yang menendang. Ia tahu siapa yang berbicara keras, namun yang melayangkan tendangan datang dari belakang — tersembunyi di kerumunan. Dan yang mengganjal: di tempat itu ada aparat yang sedang bertugas.

Pertanyaannya kini menggantung:

– Mengapa kehadiran wartawan dianggap mengganggu?
– Siapa sebenarnya kelompok yang menguasai jalur di SPBU tersebut?
– Mengapa pelansir BBM berani melarang liputan di tempat umum?
– Di mana pengamanan saat warga justru membutuhkan keterbukaan?

Liputan tentang antrean BBM bukan berita rahasia. Itu kenyataan yang terlihat siapa saja yang lewat. Namun ketika yang menuliskannya justru diserang, muncul dugaan: ada hal yang sengaja ditutupi. Ada praktik yang tak ingin diketahui publik.

Laporan Diterima, Penyelidikan Berjalan

Setelah kejadian itu, Fredi melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Palopo. Kasat Reskrim Polres Palopo, Iptu Ridwan Parintak, membenarkan adanya laporan itu.

“Laporannya sudah ada dan saat ini masih dalam proses penyelidikan,” ujar Ridwan Parintak dikutip dari Tekape.co.

Namun kecepatan penyelidikan ini dinanti bukan hanya oleh Fredi. Warga yang setiap hari mengantre, yang tak pernah tahu ke mana perginya pasokan BBM, yang melihat kelompok tertentu bergerak bebas — mereka juga menunggu.

Ketika Meliput Jadi Risiko

Peristiwa ini mengingatkan satu hal pahit: di beberapa tempat, kebenaran memang tidak dilarang — tapi siapa pun yang menyampaikannya bisa dijadikan sasaran. Wartawan bukan pihak yang berkonflik. Ia hanya saksi. Namun ketika saksi diserang, maka yang sebenarnya sedang diserang adalah hak publik untuk mengetahui apa yang terjadi di lingkungannya sendiri.

Jika sekadar mengambil gambar antrean dianggap mengganggu, maka pertanyaannya jelas: apa yang sebenarnya dijaga di sana — ketertiban, atau kepentingan segelintir orang?.(**/Jay)