Buku Baru: Kemiskinan Itu Bukan Takdir — Itu Proyek yang Sengaja Dipelihara
ARTIKEL | Selama berpuluh-puluh tahun, masyarakat Indonesia dibiasakan menerima satu narasi yang dianggap kebenaran mutlak: kemiskinan adalah nasib. Orang miskin itu miskin karena kurang kerja keras, kurang sabar, atau sekadar takdir yang harus diterima dengan lapang dada.
Namun, narasi itu kini dibanting habis-habisan oleh buku terbaru berjudul “Kemiskinan Direncanakan: Kemiskinan Itu Proyek Yang Sengaja Dipelihara Negara”. Diinisiasi oleh Balqis Humaira dan ditulis secara akademis oleh Dr. Marzuki, S.H., M.Hum., buku ini hadir bukan untuk menghakimi orang miskin — melainkan membongkar sistem yang membuat mereka tetap miskin, sekeras apa pun mereka berjuang.
Hadir dari Kegelisahan di Lapangan
Buku ini lahir bukan dari ruang kuliah yang sejuk, melainkan dari kegelisahan melihat kenyataan di lapangan. Selama ini, masyarakat sering kali dibius oleh narasi “Harus sabar menerima nasib”. Setiap kali kebijakan merugikan rakyat, disuruh sabar. Setiap kali upah tidak naik, disuruh bersyukur. Setiap kali kesempatan ditutup, disuruh menerima saja. Padahal, buku ini blak-blakan membedah satu hal yang jarang diucapkan secara terbuka: kemiskinan yang dialami banyak orang sebenarnya bukan karena nasib buruk — itu adalah produk dari sistem yang tidak adil, yang sengaja dirancang dan dipelihara.
Tiga Poin Utama yang Membongkar Realitas Kemiskinan
1. Mitos “Nasib Buruk”: Alat Lepas Tanggung Jawab Negara
Buku ini menyoroti bagaimana narasi “Sabar dan Pasrah” sering kali dipakai oleh pihak berwenang supaya mereka lepas tangan dari kewajiban menciptakan sistem yang adil bagi rakyat. Jika rakyat percaya kemiskinan itu takdir dari langit, maka tidak ada yang menuntut perubahan kebijakan di bumi. Negara pun tidak perlu memperbaiki aturan, tidak perlu membagi kekayaan secara adil, tidak perlu membela yang lemah — cukup berkata: “Itu takdir, sabar saja.”
“Sabar itu kebajikan. Tapi sabar terhadap penindasan dan ketidakadilan itu bukan kebajikan — itu kepatuhan yang dimanfaatkan oleh mereka yang berkuasa.” — kutip buku.
2. Jebakan “Besok Makan Apa?”: Ketakutan yang Membekukan Masa Depan
Poin kedua yang paling menyentuh hati adalah realitas para pekerja yang terjebak dalam sistem upah murah, kerja kontrak yang tidak pasti, serta biaya hidup yang terus naik. Bayangkan seseorang yang setiap bangun tidur, satu-satunya pertanyaan di kepalanya adalah: “Besok makan apa?”.
Pertanyaan itu tidak memberi ruang untuk berpikir tentang masa depan. Tidak ada waktu untuk belajar, tidak ada modal untuk berwirausaha, tidak ada ketenangan untuk merencanakan sesuatu yang lebih baik. Seberapa keras mereka bekerja, penghasilan itu hanya cukup untuk bertahan hidup hari ini. Sistem tidak melarang mereka bekerja — sistem melarang mereka maju. Itulah jebakan yang paling kejam.
3. Kemiskinan Ssbagai Alat Politik: Bagian Paling Menohok
Ini adalah bagian yang paling berani dan paling menyakitkan untuk diakui: kemiskinan itu sengaja dipelihara karena menguntungkan secara politik. Masyarakat yang hidup dalam kesulitan ekonomi ternyata dijadikan lumbung suara saat pemilu. Mereka mudah disetir, dijanjikan ini-itu, bahkan diancam bantuan sosialnya akan dicabut jika tidak menuruti keinginan pihak tertentu.
“Orang yang takut lapar akan mudah ditundukkan. Orang yang takut kehilangan bantuan sosial akan takut bersuara. Itulah sebabnya kemiskinan tidak dihapuskan — karena kemiskinan itu alat kekuasaan yang paling ampuh.” — Dr. Marzuki, S.H., M.Hum.
Martabat Bangsa Bukan di Angka Ekonomi
Buku ini ditutup dengan pertanyaan yang harus kita renungkan bersama: Apa ukuran kemajuan sebuah bangsa? Apakah dari angka pertumbuhan ekonomi yang tertulis di atas kertas? Apakah dari gedung-gedung tinggi di ibu kota? Atau apakah dari kenyataan bahwa rakyatnya benar-benar merdeka — merdeka dari rasa lapar, merdeka dari rasa takut, merdeka dari sistem yang sengaja menindas?
“Martabat sebuah bangsa bukan dilihat dari seberapa kaya negaranya, tapi dari seberapa banyak rakyatnya yang hidup bermartabat. Dan selama kemiskinan sengaja dipelihara, maka sejahtera apa pun yang ditampilkan di atas kertas — itu semua hanyalah kepalsuan.” — Balqis Humaira.
Tentang Buku
Judul Kemiskinan Direncanakan: Kemiskinan Itu Proyek Yang Sengaja Dipelihara Negara
Inisiator Balqis Humaira
Penulis Dr. Marzuki, S.H., M.Hum.
Terbit 31 Agustus 2026, Jakarta
Pesan Inti Kemiskinan bukan takdir — itu desain sistem. Mengubah cara pandang adalah langkah pertama untuk mengubah kenyataan.
“Langkah pertama untuk keluar dari kemiskinan adalah berhenti menyalahkan diri sendiri, dan mulai melihat sistem yang sebenarnya bekerja di baliknya.”
Apakah ingin saya buatkan versi ringkas untuk media sosial atau ulasan mendalam untuk dimuat di portal berita seperti Telusur.com? Semoga artikel ini membuka mata kita semua — bahwa kemiskinan bukanlah takdir, melainkan sesuatu yang bisa dan harus diubah bersama!.(**)


Tinggalkan Balasan