PALOPO | WARTAWAKTU.id — Musim kemarau yang menyusutkan sumber air baku memaksa Perusahaan Umum Daerah Tirta Mangkaluku Kota Palopo mengambil keputusan berat: membagi pasokan air bersih menjadi dua sesi bergantian, masing-masing berdurasi sepuluh hingga dua belas jam. Mulai kini, warga tidak lagi menerima aliran sepanjang hari — melainkan bergiliran: satu wilayah mendapat, wilayah lain menunggu.
Pengumuman resmi tertanggal awal Oktober 2026 ini menjadi tanda bahwa tekanan iklim telah menyentuh ruang paling dasar kehidupan warga: keran di rumah masing-masing.
Sesi I: Saat Kebisingan Hilang, Air Mengalir
Wilayah pertama mendapat aliran pada pukul 00.00 hingga 10.00 WITA — di tengah keheningan malam. Puluhan kawasan masuk dalam daftar ini: Jalan Andi Tendrajaya, Gunung Torpedo, Batara, Merdeka, Kelapa, Nanakan, Belimbing, Anggrek, Pattimura, Kartini, Landau, hingga area sekitar kantor Walikota.
Bagi warga di sini, waktu menampung air adalah saat orang lain terlelap. Keran dibuka sebelum fajar, ditutup tepat pukul sepuluh pagi. Sisa hari harus dijalani dengan apa yang tertampung.
Sesi II: Siang Hingga Malam, Giliran Wilayah Selatan
Pukul 12.00 siang hingga 22.00 malam, giliran berpindah ke wilayah kedua: Jalan K.H. Ahmad Razak, Pajalesang, Laga-Ligo, Kompleks Campaga, Sempowae, kawasan Islamic Center, Pantai Binturu, Poros Buluan, serta perumahan-perumahan baru seperti Citra Graha, Patimah Residence, dan Naia Pesteri.
Setelah pukul sepuluh malam, aliran berhenti. Siklus kembali berputar ke wilayah pertama di tengah malam. Tidak ada wilayah yang mendapat aliran penuh seharian. Semua berbagi.
Alasan: Debit yang Menipis, Kebutuhan yang Tetap
Penurunan debit air baku menjadi satu-satunya alasan yang tidak dapat ditawar. Sumber air menyusut lebih cepat daripada kemampuan menampung. Tanpa pembagian, aliran akan terputus tidak merata — ada yang berlimpah, ada yang tak tersentuh sama sekali.
“Kami membagi agar semua tetap mendapat. Bukan untuk menyulitkan, melainkan agar tidak ada yang ditinggalkan tanpa setetes pun.” Itulah pesan yang tersirat di balik pengumuman tersebut. Di tengah keterbatasan, keadilan berarti pembagian.
Seruan: Hemat Bukan Pilihan, Melainkan Kewajiban Bersama
Pengumuman ini bukan sekadar jadwal. Ia juga seruan kesadaran yang tegas:
– Tampung secukupnya — tidak berlebihan
– Hemat penggunaan — hentikan mencuci kendaraan, menyiram berlebih
– Tutup keran rapat — saat aliran berhenti maupun saat kembali mengalir
– Bersabar — tekanan pulih bertahap, tergantung jarak dari sumber
– Lapor jika gangguan berlarut: 0851-4532-0000
Catatan: Ini Bukan Sekedar Air
Di bagian bawah pengumuman tertulis kalimat yang sederhana namun berat maknanya: “Air Bersih Adalah Hak Setiap Kita.”
Namun di musim kemarau ini, hak itu tidak datang sendiri. Ia harus dijaga, dibatasi, dan dibagi. Penggiliran air bukan sekadar kebijakan perusahaan. Ia adalah cermin: seberapa siap kita berbagi saat sumber menyusut?
Palopo kini sedang diuji — bukan oleh hujan, melainkan oleh kemampuan warganya untuk menahan diri, berbagi, dan saling mengutamakan. Hingga hujan kembali turun.(Red/Jay)


Tinggalkan Balasan